| Petunjuk Berzakat |
|
|
|
Ikhlaskan NiatSegala perbuatan harus didasari dengan niat yang ikhlas, dalam pengertian mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, hanya untuk Allah, mengharap ridha dan kebaikan pahala-Nya tanpa mengharap pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, dan pujian manusia. Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dan beramal dengan benar jika tidak didasari dengan ikhlas, dalam firman-Nya : “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Dalam sebuah riwayat diterangkan, tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.” Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Kata beliau, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Imam Syafi'i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.” Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.” Lakukan Secara Syar’i ( Ittiba’ Rasul )Niat yang ikhlas dalam beramal harus disertai dengan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yakni dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan. Begitu banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan setiap muslim agar selalu ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di antaranya firman Allah, diantaranya : “Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, makasesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” [Ali lmran : 32] “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [Al-Hujurat : 1] “Hal orang-arang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah Ia kepoda Allah (AlQur ‘an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa :59]. “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintal Alloh, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali lmran :31] Menurut al-Hafizh lbnu Katsir, bahwa kecintaan dan ridlo Allah itulah yang paling besar, bagaimana supaya kita akan dicintai oleh Allah. Setiap kita berupaya mencintai, namun tidak setiap kita mampu dicintai. Syarat untuk dapat dicintai oleh Allah adalah dengan ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w. Imam Hasan Basri dan ulama salaf (para ulama generasi awal) lainnya mengatakan, sebagian manusia mengatakan mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini. Orang-orang munafik mengucapkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, namun hatinya tidak demikian, kerana mereka tidak mengikuti Rasulullah s.a.w.. (Tafsir lbnu Katsir, 1/384, Cet. Daarus Salaam, Th. 1413H). Karena setiap amal yang dijalankan tanpa adanya landasan syar'i atau dalil yang jelas maka amalan itu akan menjadi sia-sia, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits, 'Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan (petunjuk) dari kami, maka amalan tersebut tertolak'. (Hadis Riwayat Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718, Abu Dawud no. 4606 dan Ibnu Majah no. 14 dari hadis Aisyah r.ha). Sebagai contoh untuk menjelaskan ittiba’ di dalam beramal adalah, misalnya kita ingin meneladani Nabi shallahu’alaihi wa sallam dalam berzakat, maka kita harus berzakat sebagaimana tatacara zakat Nabi shallahu’alaihi wa sallam. Yakni mengeluarkan zakat dari harta (wajib zakat) yang telah mencapai syarat tertentu sebagaimana yang dijelaskan oleh syariat, misalnya telah mencapai nisab atau haul untuk jenis-harta tertentu, misalnya zakat emas. Sebagaimana juga kita melaksanakan zakat tersebut dengan alasan karena beliau shallahu’alaihi wa sallam memerintakhannya. Oleh karena itu seseorang yang melakukan amalan yang sama bentuk dan tujuannya dengan orang lain – selain Nabi shallahu’alaihi wa sallam – tidaklah dianggap meneladani orang tersebut jika keduanya sama-sama melakukannya dengan niat melaksanakan perintah Allah dan ittiba’ kepada Rasul-Nya shallahu’alaihi wa sallam.
Lakukan dengan Penuh Keyakinan dan TawakalSetelah meluruskan niat dan melandasi amal dengan tuntunan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka sebagai orang yang beriman kewajiban kita adalah bertawakal kepada Allah Ta’ala. Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Alloh Ta’ala, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Tawakal adalah pembuka pintu rizki, sebagaimana yang disabdakan oleh Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim) Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh menjelaskan bahwa orang yang bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, pastilah dia akan diberi rizki. Bagaimana tidak, karena dia telah bertawakal kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati. Abu Hatim Ar Razy berkata: Hadist ini merupakan tonggak tawakal. Tawakal kepada Alloh itulah faktor terbesar dalam mencari riqzi. Karena itu, barangsiapa bertawakal kepadaNya, niscaya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan mencukupinya. Alloh berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3). Ar Rabi’ bin Khutsaim berkata mengenai ayat tersebut, “Yaitu mencukupinya dari segala sesuatu yang membuat sempit manusia.”
Berdo’a mengharap Ridlo AllahDo’a menunjukkan kepada tawakal kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebab rahasia dan hakikat tawakal adalah bersandarnya hati ini hanya kepada Allah saja. Do’a adalah tali Allah. Doa juga adalah sebagai pengikat kita dengan Allah. Sebagai hamba yang kekal bersifat lemah, manusia perlu sentiasa berhubungan dengan Allah yang Maha Perkasa. Lafaz doa mengandungi makna pengharapan dan kebergantungan kepada Allahus-Somad (Allah Sebagai Tempat Bergantung). Mengakui kelemahan diri dan keperluan kepada pertolongan dan perlindungan Allah. Apabila seseorang manusia berasa tidak perlu kepada doa, dia sebenarnya terlalu angkuh dan sombong dengan jaminan dirinya sendiri. Dia telah memutuskan tali Allah yang mengikatnya sehingga terdedah kepada kebinasaan akibat dosanya melupakan Allah. Sungguh indah perhubungan antara hamba dengan Tuhannya itu. Dia begitu hampir dan tidak pernah bercerai karena penghubungnya adalah doa yang penuh keyakinan bahawa Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Doa adalah kekuatan bagi setiap Muslim, tetapi jika ia tidak difungsikan dengan cara yang benar, maka kekuatan itu akan hilang, yang tinggal hanya lafaz kosong tanpa makna dan tujuan. Kembalikanlah fungsi doa agar kita sentiasa mendapat jawapan yang pasti daripada Ilahi. Akhirnya, semoga segala amal ibadah kita diterima di sisi Allah dan dicatat sebagai sebuah amal sholeh dan diberikan barokah atasnya. Amin. |
|
| Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 09 Juni 2009 ) |






